27 Januari 2009

Soal Minggu Ini 270109



Sebuah tanki A berisi campuran 10 gallon air dan 5 galon alkohol murni. Tanki B berisi 12 gallon air dan 3 galon alkohol murni. Berapa galon yang harus diambil dari tiap-tiap tanki agar bila digabungkan menghasilkan 8 galon larutan dan kadar alkohol 25% dari isinya?

23 Januari 2009

Jangan salah 1 ons bukan 100 gram


Sudah cukup lama sebenarnya saya mendapatkan email ini, tapi tidak segera saya buka. Ketika saya membukanya, ternyata ada hal yang sangat menarik dan sungguh mengejutkan!
Ini emailnya....

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.

Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dengan cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce)adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan. SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di Indonesia, yaitu Direktorat Metrologi.

Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia.Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya. Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan "ons" dan "pound".

Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus **Indonesia **. Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan?

BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.

"Racun" ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu.Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi. TANGGUNG JAWAB SIAPA? Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan.

Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini,salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka; "acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/diberlakukan secara internasional, yang menyatakan bahwa: "1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram"? Kalau Dep.Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram? Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan "ons" dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas). Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak.

Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons "Depdiknas" = 100 gram Dan 1 pound "Depdiknas" = 500 gram.? Bagaimana "Ons dan Pound "Depdiknas" ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh dunia? Siapa yang mau pakai?. HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar.

Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan
resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana
kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya
merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus
segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi
diplomatis mengenai hal ini.


Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia .

Berikan teladan kepada bangsa ini untuktidak malu memperbaiki
kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi
sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling
berwenang diIndonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar.
Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya.

Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja
sudah merupakan upaya yang sangat berat.Janganlah malah diperberat
dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan.

Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar
yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa
lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah.

Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
dengan tantangan berat. ACUAN MANA YANG BENAR? Banyak sekali literatur, khususnya
yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford,dll.

*(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak
perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi
semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/
agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk
sebagai sarana promosi. *Salah satu* konversi untuk satuan berat yang
umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp.
(baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)* Bayangkan saja, bagaimana jadinya
kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi
28 gram, namun diberi 100 gram.

Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malpraktek?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!!
Jadi, kalau malpraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.

(*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali
terjadi)* KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN - LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan
juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan "ons dan pound yang
keliru" dari kegiatan kita sehari-hari.

Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya
diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus
konversi yang benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini.

LEMBAR PELENGKAP TAKAR - UKUR - TIMBANG MENGIKUTI SISTEM
METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*. *Kuantitas* *Satuan* *Simbol*
*Keterangan* Panjang meter m bukan mtr.Luas meter persegi (m2).Isi/volume
meter kubik (m3). Berat gram (g) bukan gr.Takaran liter 1 l = 1000 cm3
(cc.)Suhu/temperatur e derajat Celcius oC
BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN
CONTOH PEMAKAIAN
Giga 1.000.000.000 G GHz. Mega 1.000.000 M MW kilo 1.000 k km hecto 100 h ha
deka 10 da dam deci 0,1 d dm centi 0,01 c cm milli 0,001 m ml micro
0,000.001 *m* mF dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran
tanah yang diakui sah secara internasional.
*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g.,tidak pernah ada didalam system metrik
maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.


19 Januari 2009

Persamaan Linear Dalam Iklan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari persamaan linear. Apabila kita belanja di pasar dan dari sekumpulan barang belanjaan kita mendapatkan suatu harga tertentu, secara tidak langsung kita bersentuhan dengan persamaan linear. Atau, saat kita sedang menikmati makan siang di sebuah restoran cepat saji, dan di sana ditawarkan beberapa paket makanan yang merupakan kombinasi dari beberapa jenis makanan. Setiap paket pasti memiliki harga tertentu dan kita tidak tahu berapa harga untuk masing-masing makanan yang menyusun paket makanan tersebut. Sekali lagi, inipun sebenarnya adalah permasalahan persamaan linear.


Kasus yang lain seperti iklan paket hemat cetak brosur full colour di atas. Di iklan tersebut dikatakan dengan Rp750.000,- kita dapat mencetak 2000 lembar brosur A4 cetak 1 muka atau 4000 lembar ½ A4 cetak 1 muka. Jika satu lembar A4 kita misalkan x dan cetak satu muka kita misalkan y, maka kita akan mendapatkan persamaan 750.000 = 2000(x + y) atau 750.000 = 4000 (½x + y)

Contoh-contoh di atas adalah penggunaan persamaan linear dalam kehidupan sehari-hari. Apakah ada contoh penggunaan sistem persamaan linear dalam bidang lain? Ada. Kamu tentu pernah belajar tentang temperatur. Ada tiga skala yang kita kenal, Cecius, Reamur, dan Fahrenheit. Untuk mendapatkan rumus yang menghubungkan Celcius dengan Fahrenheit, kita tinggal menyatakan temperatur Fahrenheit = m temperatur Celcius + n atau F = mC + n dengan m dan n adalah konstanta. Pada tekanan satu atmosfer titik didih air adalah 212 derajat F atau 100 derajat C dan titik beku air adalah 32derajat F atau 0 derajat C. Dengan memasukkan kedua nilai tersebut ke dalam persamaan F = mC + n maka diperoleh m = 9/5 dan n = 32. Itulah sebabnya kita mendapatkan hubungan F = 9/5C + 32

10 Januari 2009

Penilaian Matematika yang Holistik

Beberapa waktu terakhir, khususnya pada akhir semester 1 yang lalu saya cukup resah dengan model penilaian matematika saya. Beberapa pertanyaan yang mengganggu saya, benarkah cara saya dalam menilai siswa dalam proses pembelajaran matematika? Bagaimana hasil ulangan saja sudah cukup merepresentasikan kemampuan dan prestasi belajar matematika siswa? Jujur saya tidak puas dengan model penilaian yang saya lakukan. So what? Mengubah paradigma tentang penilaian! Penilaian matematika yang holistik - menyeluruh, yang mengukur seluruh aspek kemampuan siswa. Ini artinya penilaian yang berfokus pada proses bukan pada hasil.

Saya mencoba mendorong siswa untuk melakukan dan terlibat dalam proses pembelajaran matematika, tanpa siswa harus berpikir soal nanti nilainya bagaimana, baik atau jelek. Mendorong siswa fokus pada proses dan mengoptimalkan seluruh potensi diri dalam pembelajaran matematika. Saya pikir ini lebih mendayagunakan dan siswa lebih banyak mendapatkan dari pada mesti dibebani target-target nilai yang baik.

Tentu bukan berarti kemudian tidak ada ulangan atau ujian. Ulangan tetap ada sebagai standarisasi penguasaan materi siswa. Namun tidak melulu berfokus pada ulangan saja.

Bagaimana prosesnya? Ini yang sudah saya rumuskan, tentu belum sempurna masih perlu dikritisi dan perlu pembenahan disana-sini.


Penilaian Performance Pembelajaran berbasis kelompok


Aspek Yang dinilai:
• Keterlibatan dalam proses belajar kelompok
• Kemampuan mengungkapkan pendapat
• Kemampuan bekerja sama
• Kepedulian terhadap teman dalam kelompok
• Penguasaan Substansi materi

Dinamika Kegiatan:
1.Buat kelompok yang beragam dalam hal kemampuan, suku, agama dan ras
2.Guru menginformasikan bahan/materi belajar beberapa hari sebelumnya
3.Kelompok berdiskusi tentang bahan/materi yang diberikan dan guru menjadi fasilitator
4.Setelah proses diskusi selesai guru memberikan soal-soal kepada kelompok. Kemudian memilih secara acak wakil kelompok untuk menjawab dan menjelaskan jawaban kaitannya dengan substansi materi yang sedang dipelajari
5.Guru mengadakan tes kecil (post test) untuk masing-masing siswa.
6.Dalam kelompok siswa merefleksikan hasil/prestasi belajar dan seluruh proses yang dialami kemudian merancang rencana aksi tindak lanjut berdasarkan hasil refleksi tersebut.
Penilaian dilakukan oleh:
1.Guru
2.Siswa sendiri
3.Teman dalam kelompok

Rubrik penilaian:
No Nama Siswa Keterlibatan Berpendapat Kerjasama Kepedulian Substansi materi


Saya sedang mencobakan ini....
Senang jika bapak/ibu guru atau para siswa dan pembaca yang lain memberikan tanggapan atau masukan...
Lain waktu saya akan sharing tentang pembelajaran berbasis kelompok yang sudah saya lakukan di kelas matematika saya.


Salam,
HJS





24 Desember 2008



Selamat Natal 2008 & Selamat Tahun Baru 2009
KelahiranNya memberi semangat baru untuk terus berkarya memberikan yang terbaik ...

12 Desember 2008

Catatan Matematika, Pentingkah?

Seringkali ada anggapan bahwa catatan pelajaran matematika itu tidak penting. Argumentasi yang sering dikemukakan adalah bahwa semua yang dijelaskan guru sudah ada di dalam buku pelajaran. Namun yang harus diingat, kadang guru menggunakan banyak sumber referensi dan apa yang dijelaskan kadang tidak ada di dalam buku teks kita. Alasan lain kenapa perlu membuat catatan adalah dengan menulis kembali apa yang kita pelajari, kita akan jadi lebih paham dibanding jika hanya sekedar membaca atau mendengarkan penjelasan guru. Ketika mencatat, berarti kita secara tidak langsung mengulangi kembali apa yang sudah dijelaskan oleh guru atau apa yang sudah kita baca.
Catatan pelajaran pada dasarnya digunakan untuk membantu mengingat kembali apa yang sudah pernah dipelajari. Mengingat kapasitas otak dan daya ingat kita terbatas, catatan akan sangat berguna untuk memudahkan kita dalam belajar di masa mendatang.
Tentu tidak semua yang diucapkan guru di kelas, atau apa yang kita baca di dalam buku teks pelajaran, kita tulis atau salin begitu saja dalam buku catatan kita. Berikut ini adalah beberapa tips untuk membuat catatan matematika di kelas.
1. Catatlah point-point penting yang dituliskan guru di papan tulis. Jangan membuang-buang waktu dengan menuliskan apa yang sudah ada dalam buku teks pelajaran. Karena tentu saja kita seharusnya telah membaca buku teks tersebut secara cermat sebelum pelajaran untuk mengetahui apa yang ada di dalam buku itu.
2. Catatlah penjelasan guru. Yakinkan bahwa kita sudah menuliskan penjelasan yang disampaikan guru di buku catatan kita. Seringkali guru tidak memberikan catatan ketika menjelaskan suatu konsep atau suatu soal tertentu, sehingga kita harus mencatat sendiri penjelasan guru tersebut. Catatan itu akan dapat membantu menjelaskan kepada kita bagaimana mengerjakan suatu jenis soal tertentu atau membantu menjelaskan kepada kita mengapa guru memilih menggunakan suatu rumus atau suatu metode tertentu, bukan rumus atau metode yang lain untuk menyelesaikan soal yang diberikan.

3. Catatlah contoh-contoh soal dan langkah-langkah penyelesaiannya yang diberikan oleh guru di kelas. Kemudian tulislah penjelasan tambahan untuk masing-masing langkah tersebut dengan menggunakan bahasa/kata-kata sendiri sehingga kita sungguh paham dan tahu apa yang mesti dikerjakan dalam menyelesaikan soal-soal tersebut.
Sebagai contoh misalnya bagaimana menyelesaikan persamaan kuadrat dengan cara memfaktorkan.


Bersambung...

03 Desember 2008

Alat peraga Matematika

Kamarudin, Penemu Alat Peraga Matematika

Sumber: Kompas, Sabtu 17 Desember 2005

Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika kerap kali menjadi momok menakutkan bagi para siswa. Namun, Kamarudin mampu menjadikan siswa senang, malah dengan santai, mempelajarinya, khususnya murid kelas rendah: kelas I, II, dan III sekolah dasar.

Caranya, Kepala Sekolah Dasar Nomor 1 Kenawa, Desa Kenawa, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, ini membuat alat peraga yang disebutnya Blok/Petak Bilangan. Saya mencoba membuat alat peraga ini dengan mengombinasikan antara belajar dan bermain, tutur Kamarudin (45), ayah dari enam anak hasil pernikahannya dengan Hayatun itu.

Alat peraga itu amat sederhana. Papan tripleks dilubangi sedemikian rupa berbentuk persegi. Kemudian ada sejumlah potongan papan seukuran panjang dan lebar bidang papan yang dilubangi tadi yang bergambar pohon, buah, ikan, kelereng, bola, wayang, dan lainnya di satu sisinya dan angka-angka di sisi lainnya.

Papan ukuran kecil itu ada yang diberi engsel atau isolasi biar bisa dilipat sehingga gambar pohon, buah dan angka, dan lainnya sebagai unsur untuk menambah-mengurangi bisa langsung ditunjukkan kepada siswa.

Bolongan-bolongan tersebut dimaksudkan agar potongan papan bergambar itu bisa dikeluar-masukkan pada lubang bidang papan tersebut. Di bagian paling atas bidang papan terdapat lubang yang ukuran sama untuk wadah hasil akhir (jumlah) dari menambah dan mengurangi bilangan. Sedangkan gambar-gambar dan angka-angka masing-masing pada bagian kiri dan kanan bidang papan.

Dengan alat peraga ini, siswa kelas I, II, dan III SD, bahkan murid taman kanan-kanak, akan lebih mudah mengenal huruf, angka, dan bercerita. Siswa pun bisa belajar menulis karena di atas papan bergambar itu dilengkapi kertas maupun plastik transparan, tinggal mengikuti bentuk-bentuk huruf dan angka.

Cara ini mengganti metode menulis di udara, atau siswa diajak membayangkan angka dan huruf dalam udara, yang sebelumnya diajarkan kepada siswa. Alat peraga ini juga tidak menimbulkan ketakutan siswa untuk belajar Matematika karena mereka serasa diajak bermain.

Ketakutan terhadap mata pelajaran Matematika lebih disebabkan kurangnya peran guru dalam memahami kemudian mengembangkan konsep dasar pelajaran berhitung. Misalnya, 2 x (kali) 2 = 4, oleh guru dinyatakan dalam bentuk hafalan. Mestinya, hasil itu dijabarkan prosesnya sehingga siswa mengerti perolehan angka empat dari perkalian tadi.

Ikut lomba

Ide membuat alat peraga itu didasari pengalaman mengajar di berbagai SD. Dia melihat kondisi memprihatinkan para siswa kelas V-VI yang tidak paham menambah dan mengurangi, apalagi membagi dan mengalikan angka-angka. Kamarudin berpikir keras untuk mengatasi persoalan itu. Kebetulan saat itu, tahun 1980-an, dia diutus mengikuti penataran alat peraga di Balai Pelatihan Guru Mataram. Dari sekitar 90 peserta (guru), dengan karya Blok/Petak Bilangan, ia dinyatakan lulusan terbaik.

Pada tahun yang sama, Kamarudin ikut lomba alat peraga tingkat nasional di Cipayung, Bogor. Saya pilih ikut lomba peraga Matematika mengingat banyak guru IPA di NTB mahir membuat alat peraga, tuturnya. Dalam tempo dua minggu sebelum lomba dimulai, Kamarudin mengumpulkan bahan-bahan dan deskripsi alat peraga. Sebelumnya, nyalinya sempat kecut mengingat alat peraga yang dirancang peserta sejumlah provinsi sangat baik.

Namun, Kamarudin dengan percaya diri mempresentasikan alat peraga di hadapan tim penguji Balitbang Departemen Pendidikan Nasional. Rupanya karya cipta Kamarudin menarik perhatian tim penguji sebab waktu untuk presentasi dibatasi 30 menit, dan saat dia diuji waktu diulurkan menjadi 45 menit, bahkan tim penguji memuji karyanya.

Rupanya pujian dan bonus waktu tadi sebuah pertanda awal sebuah keberhasilan. Alat peraga bikinannya, yang dirasakan nyaris tidak menimbulkan kekaguman kalangan peserta, justru menduduki urutan terbaik. Setelah itu, alat peraganya diuji di sebuah SD di Cipayung, dengan hasil tidak beda jauh saat proses uji pada siswa kelas rendah di Kecamatan Kopang, yaitu dengan tingkat keberhasilan 75-95 persen masing-masing untuk siswa SD pedesaan dan perkotaan.

Sayang alat peraga itu, yang kalau dibuat lengkap memerlukan biaya Rp 500.000 satu set, belum bisa diproduksi massal karena gaji guru golongan IIID ini hanya cukup untuk menyambung hidup. Pernah memang dua perusahaan di Jakarta bersedia memproduksinya, bahkan diperkuat penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) segala. Namun, kontrak kerja itu tak pernah terwujudkan sampai kini.

Dengan alat peraga itu, hanya satu keinginan Kamarudin, Yang penting siswa kelas I, II, dan III lebih mudah belajar membaca, menulis, dan berhitung. Itu saja.


02 Desember 2008

Soal Minggu Ini 01122008

Setiap hari Pak Joyo bekerja naik sepeda. Ia berangkat dari rumah pukul 06.00 dan sampai di tempat kerjanya pukul 07.20. Apabila ia berjalan kaki, maka kecepatannya 7km/jam kurangnya dari jika ia bersepeda. Pada suatu hari Pak Joyo pulang dari bekerja naik sepeda dengan kecepatan 3km/jam kurangnya dari biasanya. Setelah menempuh jarak 12 km, sepedanya rusak, terpaksa ia harus menuntun sepedanya sampai di rumah, setelah menempuh perjalanan selama 2 jam. Berapakah jarak rumah Pak Joyo ke tempat kerjanya?

Selamat Mencoba...