09 Januari 2014

Filsafat : Membangun Dunia - Membangun Kehidupan



A. Membangun Dunia
Dunia tidak hanya dipandang sebagai dunia secara fisik material semata, tetapi juga dunia yang dihayati dan dihidupi oleh manusia. Fisika modern, beserta dengan ilmu-ilmu modern lainnya, sering melakukan penyempitan pemahaman atas dunia dengan melihatnya semata sebagai gejala material-fisik-biologis saja. Pun alam semesta lebih kecil daripada dunia itu sendiri. Alam semesta hanyalah dunia fisik yang merupakan satu bagian kecil dari dunia sebagai keseluruhan. Markus Grabriel, seorang Professor Filsafat di bidang Epistemologi dan Filsafat Modern di Universit├Ąt Bonn menyatakan bahwa alam semesta hanyalah salah satu dari ruang-ruang objek, satu bagian dari keseluruhan, dan bukan keseluruhan itu sendiri.
   Dunia terbangun dari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Oleh karena itu apa yang kita pikirkan dan tidak dapat dipikirkan itulah dunia. Apa yang ada di sekitar kita dan di luar lingkungan kita itulah dunia. Dunia dapat berupa komponen sintesis dari anti-tesis dan tesis yang terkandung di dalamnya. Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini menempati ruang dan waktunya masing-masing. Setiap unsur di dunia ini telah diciptakan secara seimbang. Misalnya jika separo dunia ontologi, maka separo dunia yang lain adalah tidak ontologi, jika separo dunia adalah epistemologi maka separo dunia yang lain adalah tidak epistemologi, jika separo dunia adalah aksiologi maka separo dunia yang lain adalah tidak aksiologi, jika separo dunia adalah vatal maka separo dunia yang lain adalah fital, jika separo dunia adalah filsafat maka separo dunia yang lain adalah penerapannya, jika separo dunia adalah matematika dan pendidikan matematika, maka separo dunia yang lain adalah penerapannya, jika separo dunia adalah subjek maka separo dunia yang lain adalah predikat, jika separo dunia adalah logos, maka separo dunia yang lain adalah mitos, jika separo dunia adalah apa yang kita pikirkan, maka separo dunia yang lain adalah apa yang tidak kita pikirkan.
Dunia sebagai keseluruhan, menurut pandangan filsafat klasik, adalah bidang dari segala bidang-bidang lainnya. Ia adalah jaringan dari keseluruhan. Namun manusia tidak akan pernah bisa memahami dunia demikian, karena pengetahuannya yang terbatas. Terjangan filsafat posmodern telah membuyarkan harapan manusia tentang filsafat yang bisa menjelaskan segalanya dalam satu gambaran dunia yang utuh dan koheren. Akibatnya, banyak orang kini kehilangan pegangan, karena panduan dunia yang utuh dan menyeluruh telah menghilang. Keyakinan akan kebenaran mutlak dipertanyakan ulang. Sebaliknya, imajinasi dan kreativitas justru meningkat, guna mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan. Dunia bagaikan rumah - tempat yang dingin yang harus ditata dengan imajinasi dan daya cipta manusia. Tidak ada pilihan lain, kecuali manusia menjalani ini semua dengan penuh kesadaran dan kebebasan.
Inilah kesempatan bagi manusia membangun dunia dengan imajinasi, kreativitas, kebebasan dan kesadarannya secara utuh dan penuh. Membangun peradaban yang lebih baik, lebih manusiawi – peradaban yang menempatkan manusia sebagai subyek yang menghargai hidup dan kehidupan, menghargai alam semesta dan setiap makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Membangun peradaban dunia yang seimbang. Peradaban, pertama dan terutama merupakan produk dari mental manusia. Institusi-institusi yang menopang kehidupan manusia, seperti negara, agama, dan masyarakat dibentuk melalui imajinasi dan pemikiran manusia. Penyempitan dunia manusia hanya pada dimensi material biologisnya mengabaikan seluruh proses mental ini, yang telah menghasilkan peradaban manusia. Sebagai suatu eksistensi, manusia adalah sekaligus kesatuan semua dimensinya, termasuk tubuh dan mentalnya.

B. Membangun Hidup
Dunia beradab jika manusia mampu membangun kehidupannya dengan baik dan benar. Untuk membangun hidup yang baik dan benar, manusia harus mampu menggunakan semua yang ada dan yang mungkin ada, termasuk pikiran – akal budi dan hati – nurani. Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi. Oleh karenanya, berefleksi adalah bagian dari membangun hidup. Dengan berefleksi manusia menggali makna terdalam dari peristiwa hidup yang dialaminya dengan terang akal budi dan hati nurani. Lewat refleksi manusia memiliki kesempatan untuk menguji kesadaran diri dan meneliti gerakan bathin untuk membedakan roh baik dan roh jahat – memungkinkan manusia untuk memilih mana yang baik dan benar. Refleksi membentuk sikap hidup.
Menurut Prof. Dr. Marsigit M.A. sebenar-benar filsafat adalah refleksi hidup manusia itu sendiri. Berfilsafat itu berolah pikir. Ini berarti menggunakan segenap akal budi dan pikiran dalam memandang segala sesuatu. Sejauh manusia membutuhkan pencerahan hidup yang dituntun terang akal budi, maka filsafat akan selalu dibutuhkan oleh manusia. Sebenarnyalah filsafat adalah kehidupan itu sendiri. Filsafat akan menyerta dalam setiap kehidupan manusia. Filsafat akan menuntun manusia untuk berpikir dan berefleksi secara mendalam untuk menemukan makna terdalam hidup – hakekat hidup dan kehidupan itu sendiri.
Filsafat itu merupakan olah pikir yang masih terbuka secara spiritual maupun non spiritual. Dalam berfilsafat agar benar dan terarah, manusia harus meletakkan spiritual sebagai fondasi atau dasar dan sekaligus muara dalam berfilsafat. Setinggi-tingginya pengembaraan pikiran dalam berfilsafat tetap dalam kerangka spiritual. Bagaimanapun di atas langit filsafat masih ada langit spiritual. Berfilsafat semestinya diarahkan agar manusia dapat semakin mudah menemukan Tuhan Sang Pencipta semesta, supaya manusia semakin dekat dan menyatu dengan Sang Hidup sendiri. Find God in all things, demikian St Ignatius Loyola mengungkapkan.
Filsafat akan menuntun manusia untuk berpikir dan berefleksi secara mendalam untuk menemukan makna terdalam – hakekat tentang sesuatu hal. Untuk bisa memahami hakekat tentang sesuatu hal, manusia harus mempunyai kesadaran akan sesuatu hal tersebut. Untuk menggapai hakekat, manusia harus mampu meletakkan segenap kesadarannya di depan mereka. Agar dapat menyadari tentang hakekat-hakekat itu, manusia harus menerjemahkan dan diterjemahkan dalam ruang dan waktu. Filsafat membantu manusia untuk tetap sadar akan keterbatasannya. Ia mengajak manusia menelusuri ruang-ruang terdalam jiwanya, guna menemukan makna hidup yang mendorongnya untuk terus hidup. Filsafat mengajak kita melintas pelbagai area makna dengan berani dan tulus. Pada titik inilah sebenarnya berfilsafat itu mengolah hidup.
Filsafat itu mempunyai daya bongkar dan daya dobrak yang luar biasa terhadap segala macam kemapanan, baik kemapanan pemikiran dan kemapanan-kemapanan yang lain, bahkan kemapanan hidup. Dan ketika orang berhenti berfilsafat maka sebenarnya kehidupan itu mandeg! Karena itu berarti orang berhenti berpikir, berhenti berefleksi – berhenti merenung seperti gunung di kedalaman kontemplasi.

C. Membangun Pengetahuan
Mempelajari filsafat memiliki berbagai manfaat, diantaranya adalah memberikan pengertian mendalam tentang manusia; menganalisis dan mengkritisi argumentasi, pendapat, ideologi  dan pandangan dunia; pendasaran metodis dan wawasan mendalam dan kritis terhadap ilmu pengetahuan. Salah satu fungsi filsafat adalah sebagai alat untuk mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada dan yang mungkin ada. Filsafat dengan pola dan model-model yang spesifik menggali dan meneliti pengetahuan melalui sebab musabab pertama dari suatu fenomena tertentu. Pada titik inilah filsafat melahirkan pengetahuan.
Pengetahuan adalah suatu istilah yang digunakan untuk menuturkan apabila seseorang mengenal tentang  sesuatu. Sesuatu yang menjadi pengetahuanya adalah yang terdiri dari unsur yang mengetahui dan yang diketahui serta kesadaran mengenai hal yang ingin diketahuinya. Maka pengetahuan selalu menuntut adanya subyek yang mempunyai kesadaran untuk ingin mengetahui tentang sesuatu dan objek sebagai hal yang ingin diketahuinya. Jadi, pengetahuan adalah hasil usaha manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Semua pengetahuan hanya dikenal dan ada dalam pikiran manusia, tanpa pikiran pengetahuan tidak bisa eksis. Dengan demikian keterkaitan antara pengetahuan dengan pikiran merupakan sesuatu yang kodrati.
Bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode dan keshahihan pengetahuan adalah epistemologi. Objek material epistemologi adalah pengetahuan dan objek formalnya adalah hakikat pengetahuan itu. Pengetahuan dapat terjadi melalui berbagai proses berikut: 1) Pengalaman indra (sense experience). Pengalaman indra merupakan sumber pengetahuan yang berupa alat-alat untuk menangkap obyek dari luar diri manusia melalui kekuatan indra. 2) Nalar (reason). Salah satu corak berfikir dengan menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan maksud untuk mendapat pengetahuan baru. 3) Otoritas (authority). Kekuasaan yang syah yang dimiliki oleh seseorang dan diakui oleh kelompoknya. 4) Intuisi (intuition). Kemampuan yang ada pada diri manusia yang berupa proses kejiwaan  dengan tanpa suatu rangsangan untuk membuat peryataan yang berupa pengetahuan. 5) Wahyu (revelation). Wahyu merupakan salah satu sumber pengetahuan karena kita mengenal sesuatu dengan melalui kepercayaan kita. 6) Keyakinan (faith). Kemampuan yang ada pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan.
Munculnya Teori Pengetahuan dari Immanuel Kant, sebagai landasan epistemologis dari pengetahuan, dipengaruhi paling tidak oleh pengaruh dua aliran epistemologi yang masing-masing berakar pada pondasi empiris dan pondasi rasionalis. Menurut kaum pondasionalis empiris, terdapat unsur dasar pengetahuan dimana nilai kebenarannya lebih dihasilkan oleh hukum sebab-akibat dari pada dihasilkan oleh argumen-argumennya; mereka percaya bahwa keberadaan dari kebenaran tersebut disebabkan oleh asumsi bahwa obyek dari pernyataannyalah yang membawa nilai kebenaran itu. Kaum pondasionalis empiris mempunyai dua asumsi: (a) terdapat nilai kebenaran, jika kita mengetahuinya, yang memungkinkan kita dapat menjabarkan semua pengetahuan tentang ada; (b) nilai kebenaran itu diterima sebagai benar tanpa prasyarat.Untuk menemukan konsep dan putusan yang mana yang mendasari pengetahuan, kaum pondasionalis rasionalis berusaha mencari sumber dari kegiatan berpikir, yaitu kegiatan dimana kita dapat menemukan ide dasar dan kebenaran. Kegiatan dimaksud merupakan kegiatan intelektual yang memerlukan premis-premis yang dapat berupa kegiatan intuisi atau semacam refleksi diri seperti yang terjadi pada Cogito-nya Cartesius. Kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan pondasi yang dicari dari pengetahuan tetapi juga memberikan kepastian epistemologis, yaitu suatu keadaan yang pasti dan dengan sendirinya benar. Dasar dari ide dan putusan bersifat pasti karena mereka dihasilkan dari suatu aktivitas yang terang dan jelas sebagai prasyarat diperolehnya putusan yang dapat diturunkan menjadi putusan-putusan yang lainnya. Kaum rasionalis seperti Plato, Descartes, Leibniz, atau Spinoza, percaya bahwa semua pengetahuan telah ada pada akal budi sebelum aktivitas kognisi dimulai; namun, mereka dianggap belum mampu meletakkan dasar-dasar pengetahuan yang menjamin nilai kebenaran suatu proposisi. Di lain pihak, usaha meletakkan dasar kognisi dan pengetahuan tidak berarti bahwa seorang Immanuel Kant memadukan begitu saja apa yang dikerjakan oleh kaum empiris maupun kaum rasionalis. Kant berusaha untuk menjawab pertanyaan bagaimana kegiatan kognisi mungkin terjadi dalam kaitannya dengan hubungan antara subjek dan objek atau bagaimana representasi sintetik dan obyeknya dapat terjadi dan bagaimana hubungan antara keduanya?
Filsafat yang secara khusus membincangkan ilmu pengetahuan disebut sebagai filsafat ilmu. Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofis dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana. Manfaat lain mengkaji filsafat ilmu adalah manusia tidak terjebak dalam bahaya arogansi intelektual; kritis terhadap aktivitas ilmu/keilmuan; merefleksikan, menguji, mengkritik asumsi dan metode ilmu terus-menerus sehingga ilmuwan tetap bermain dalam koridor yang benar; mempertanggungjawabkan metode keilmuan secara logis-rasional; memecahkan masalah keilmuan secara cerdas dan valid; serta berpikir sintetis-aplikatif. Demikianlah semestinya kita membangun pengetahuan.

D. Membangun Pendidikan Matematika
Matematika, pada hakekatnya, selalu berusaha mengungkap kebenaran namun dalam sejarah panjangnya, sejak jaman Renaisan, aspek empiris dari matematika seperti yang dicanangkan oleh John Stuart Mill ternyata kurang mendapat prospek yang cerah. Matematika telah berkembang menjadi kegiatan abstraksi yang lebih tinggi di atas kejelasan pondasinya. Kaum pondasionalis epistemologis berusaha meletakkan dasar pengetahuan matematika dan berusaha menjamin kepastian dan kebenaran matematika, untuk mengatasi kerancuan dan ketidakpastian dari pondasi matematika yang telah diletakkan sebelumnya. Di dalam Teori Pengetahuannya, Immanuel Kant berusaha meletakkan dasar epistemologis bagi matematika untuk menjamin bahwa matematika memang benar dapat dipandang sebagai ilmu. Kant menyatakan bahwa metode yang benar untuk memperoleh kebenaran matematika adalah memperlakukan matematika sebagai pengetahuan a priori. Menurut Kant, secara spesifik, validitas obyektif dari pengetahuan matematika diperoleh melalui bentuk a priori dari sensibilitas kita yang memungkinkan diperolehnya pengalaman inderawi.
Pandangan tentang matematika dapat dibagi menjadi dua, yaitu: pertama, memandang obyek matematika sebagai ide dalam pikirannya (Absolutism-Idealism-Platonism); kedua, memandang obyek matematika di luar pikirannya (Intuitionism-Realism-Aristotelianism). Absolutism-Idealism-Platonism kemudian melahirkan Logicist-Formalist-Foundationlist. Sedangkan Realism-Relativism-Aristotelianism kemudian melahirkan Empiricism-Fallibism-SocioConstructivism.
Perbedaan mendasar antara matematika yang dibangun oleh kaum Logicist-Formalist-Foundationalist dan matematika yang dibangun oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist adalah bahwa kaum Logicist-Formalist-Foundationalist hidup di dunia yang terbebas dari ruang dan waktu, terbebas dari kontradiksi, terjamin konsistensinya. Unggul secara substansi, tetapi unggul dalam bentuk formalnya. Mereka adalah harapan bagi pengembangan pure-mathematics ke depan. Sementara dunianya ruang dan waktu dihuni oleh para Intuitionist-Realist-Aristotelianist-Empiricist-Relativist, yang bergandengan tangan dengan kaum Fallibist-Socio-Constructivist. Mereka penuh dengan kontradiksi, tidak konsisten, bersifat relatif, mengerjakan matematika yang belum benar dan subyektif.
Absolutism yang merupakan perwujudan dari Platonism, mewarnai dunia pendidikan dengan pure mathematics-nya. Sistem matematika dikembangkan berawal dari anggapan atau pra-anggapan (Assumption or Pre-assumption) yang contohnya bisa berupa unsur primitif (Primitive Element), kesepakatan (Convention/Agreement), pengandaian (Assumption) atau definition. Sistem matematika mencakup asumsi dasar, definisi, aksioma, teorema sampai pada lema-lemanya. Agar tetap terjamin konsistensi logika matematikanya maka kaum Logicist-Formalist-Foundationalist cenderung membangun sistem matematika yang bersifat tertutup.
 Sedangkan fallibism-constructivism berasal dari Aristotelian yang menghendaki matematika bukan sebagai struktur formal yang tertutup dan absolut, tetapi sebagai kegiatan kaya dengan proses membangun (konstruktif), memandang bahwa matematika itu tidak terbebas dari kesalahan. Construktivism dalam kajian filsafat adalah cara manusia membangun kehidupannya itu sendiri. Oleh karena itu, constructivism adalah hermeneutika itu sendiri. Pembelajaran matematika yang didasarkan pada constructivism menekankan pada membangun pengetahuan, pemahaman, aspek psikologis, sosial dan interpersonal siswa dengan didasarkan atas kepercayaan. Kepecayaan dalam hal ini adalah bahwa guru mempercayai bahwa siswa memiliki kemampuan jika diberi kesempatan. Dengan demikian constructivism jauh letaknya dari determinis, dimana guru telah menetapkan sifat siswa atau membuat prejudice yang diistilahkan juga dengan menutupi sifat-sifat siswanya. Guru dalam kondisi demikian telah melakukan reduksi terhadap sifat siswa.
Wilder R.L. menyatakan bahwa dalam sudut pandang constructivism obyek matematika ada hanya jika dapat dibangun (dikonstruk). Berangkat dari pandangan ini, semua objek matematika seharusnya dapat dikonstruk dan dibawa ke dalam pembelajaran matematika.  Menurut Kant, constructivism berangkat dari kesadaran akan keterbatasan, ketidaksempurnaan dan kerentanan manusia. Manusia terancam dengan klaim yang tidak benar sehingga kata Kant, “thus they need to check and criticize the unjustified and arbitrary assumptions they make in reasoning”.
Matematika yang diajarkan di sekolah cenderung merujuk pada pure mathematics. Definisi matematika demikian tidak cukup ramah untuk bergaul dengan siswa-siswa SD dan SMP. Definisi matematika demikian juga tidak mampu menyelesaikan problem pembelajaran matematika di sekolah. Mungkin baik jika kita melihat definisi matematika sekolah dari Ebbutt and Straker (1995) yang mendefinisikan Matematika sebagai berikut: (1). Matematika adalah ilmu tentang penelusuran pola dan hubungan (2). Matematika adalah ilmu tentang pemecahan masalah (Problem Solving) (3). Matematika adalah ilmu tentang kegiatan investigasi (4). Matematika adalah ilmu berkomunikasi. Definisi matematika demikian ini sangat kaya dengan aspek-aspek psikologis, social dan constructivist.
Setidaknya terdapat 2 (dua) asumsi dasar, pertama, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Logika atau penalaran bersifat "analitik a priori", sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat "sintetik a posteriori". Pilar bangunan Architektonic Mathematics adalah pertemuan atau perkawinan keduanya sehingga menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat "sintetik apriori". Dan menurut Immanuel Kant, matematika bisa menjadi ilmu jika ia bersifat "sintetik a priori".
Interaksi antara subjectivity of mathematics dan objectivity of mathematics itulah yang kemudian disebut sebagai "The Nature Of Students Learn Mathematics” atau "Hakekat Siswa Belajar Matematika". Inilah hakekat belajar matematika yang ditemukan oleh Paul Ernest (2002) dalam bukunya yang berjudul The Philosophy of Mathematics Education.
Menurut Prof. Dr. Marsigit, M.A. salah satu bentuk kompromi antara pure mathematics dan school mathematics adalah jika obyek telaah berada diwilayahnya pure mathematician, maka para mathematical educationistlah yang harus menyesuaikan diri, mempelajari dunianya Logicist-Formalist-Foundationalist, yaitu dengan cara melakukan mathematical research. Tetapi jika obyek telaah berada di wilayah mathematical educationist, maka pure mathematician seharusnyalah perlu menyelami, mempelajari dan terlibat di dalam pengembangan mathematical education dalam aspek-aspeknya Intuitionist-Fallibist-Sosio-Constructivist. Selain itu, Marsigit menawarkan apa yang disebutnya Quasi-Mathematics, yaitu daerah yang berada diantara Pure Horizontal Mathematics dan Pure Vertical Mathematics. Dengan Quasi-Mathematics kita dapat mempertemukan pure mathematics dan school mathematics.


Kepustakaan:
Aiken, Henry D. 2002. Abad Ideologi. Yogyakarta : Bentang
Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Pers
Rekaman perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Russel, Bertrand. 2005. Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (terjemahan). Yogkarta : Pustaka Pelajar.



 Sriyanta, HJ
NIM 13709251034
PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas B

14 November 2013

Napak Tilas Jejak Filsafat 1 : Filsafat Kuno



Mencintai kebenaran merupakan awal proses manusia menggunakan daya pikirnya, sehingga mampu membedakan mana yang riil dan mana yang ilusi.  Orang Yunani pada awalnya sangat percaya pada dongeng dan takhyul, namun lama kelamaan, terutama setelah mampu membedakan yang riil dan yang ilusi, mereka mampu melepaskan diri dari kungkungan mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Pada titik inilah, periode filsafat Yunani sangat penting dalam sejarah peradaban manusia karena pada periode ini terjadi perubahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris.
Perubahan ini tampaknya sederhana, tapi memiliki implikasi yang luar biasa. Manusia menjadi lebih proaktif dan kreatif dalam menghadapi fenomena alam, menjadikannya obyek penelitian dan pengkajian. Menggugah rasa keingintahuan yang semakin mendalam tentang alam, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan, seperti dari manakah asal usul alam ini? Bagaimana terjadinya? Pertanyaan seperti inilah yang selalu diajukan oleh para filsuf Yunani, sehingga mereka disebut filsuf alam, sebab perhatiannya yang begitu besar terhadap alam.
Filsuf alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam adalah Thales (624-546 SM). Ia digelari Bapak Filsafat karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan. “Apa sebenarnya asal usul alam semesta ini?” merupakan pertanyaan yang sangat mendasar, terlepas apapun jawabannya. Dan yang lebih penting, pertanyaan tersebut dijawabnya dengan pendekatan rasional bukan dengan pendekatan mitos. Menurut Thales asal alam adalah air, karena air merupakan unsur penting bagi setiap makhluk hidup. Air dapat berubah menjadi benda gas (uap), air dapat berubah menjadi benda padat (es) dan bumi ini berada di atas air.
Filsuf alam selanjutnya adalah Anaximander (610-540 SM) yang mengatakan bahwa segala hal berasal dari substansi asalai, namun substansi itu bukanlah air seperti diyakini Thales, atau substansi manapun yang kita ketahui. Substansi itu tidak terbatas, abadi dan tak mengenal usia, dan “ia melingkupi seluruh dunia-dunia” – sebab Anaximander menganggap bahwa dunia kita ini hanyalah salah satu dari banyak dunia. Substansi asali itu diubah menjadi pelbagai substansi yang kita kenal, dan substansi-substansi itu saling ditransformasikan menjadi substansi yang satu atau yang lain. Anaximander memiliki keingintahuan ilmiah yang besar. Konon ia adalah orang pertama yang membuat peta. Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti silinder. Anaximander dikenal orisinal, berwatak ilmiah dan rasionalistik.
Tokoh lain adalah Anaximenes yang muncul setelah Anaximander dan sudah dewasa sebelum tahun 494 SM. Menurutnya substansi yang paling dasar adalah udara. Jiwa adalah udara. Api adalah udara yang encer, jika dipadatkan pertama-tama udara akan menjadi air, dan jika dipadatkan lagi menjadi tanah, dan akhirnya menjadi batu. Anaximenes berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar.
Ketiga tokoh di atas, yaitu Thales, Anaximander, dan Anaximenes sering dikenal sebagai tritunggal Milesian. Mazhab Milesian penting bukan karena apa yang dicapainya, namun karena apa yang diupayakannya. Kemunculannya didorong oleh kontak anata pemikiran Yunani dengan Babilonia dan Mesir. Mengingat Miletus adalah kota niaga, tempat bertemunya orang dari berbagai penjuru. Miletus merupakan kota niaga yang makmur, dimana prasangka dan takhayul primitive diperlunak karena pergaulannya dengan berbagai bangsa. Pemikiran spekulatif Thales, Anaximander, dan Anaximenes bisa dianggap sebagai hipotesis-hipotesis ilmiah, dan hamper tak pernah mencampuri hal-hal yang berkaitan dengan hasrat-hasrat antropomorfis dan ide-ide moral. Persoalan-persoalan yang mereka kemukakan adalah persoalan yang berharga, dan semangat mereka bisa memacu penyelidikan selanjutnya.
Pythagoras (580-500 SM) merupakan seorang tokoh terpenting yang pernah hidup, baik ketika ia bijak maupun tak bijak, demikian Bertrand Russel mengungkapkan. Matematika dalam pengertian sebagai argumen deduktif demonstratif bermula dari dia dan oleh dialah matematika dikaitkan dengan suatu bentuk mistisisme yang ganjil. Pengaruh matematika terhadap filsafat, yang sebagian adalah karena dia, sejak saat itu menjadi cukup mendalam sekaligus kurang menguntungkan. Pythagoras mengatakan bahwa segala sesuatu adalah bilangan-bilangan. Baginya tidak ada satupun yang di alam ini terlepas dari bilangan. Semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus menjadi ukuran. Pythagoras menganggap bilangan-bilangan sebagai bentuk-bentuk. Kita pun masih memakai istilah bilangan bujur sangkar (bilangan berpangkat dua), bilangan kubus (bilangan berpangkat tiga) yang tak lain adalah istilah-istilah dari Pythagoras. Penemuan terpenting dari Pythagoras adalah proposisi tentang segitiga siku-siku, yakni bahwa kuadrat sisi-sisinya yang membentuk sudut siku-siku sama dengan sama dengan hasil kuadrat dari sisi yang lain, yakni sisi miringnya.
Berkait dengan keberadaan alam semesta, ada dua pandangan yang berbeda. Pandangan pertama muncul dari Heraklitos (540-480 SM) yang melihat alam semesta selalu dalam keadaan berubah. Jika kita ingin memahami kehidupan kosmos, kita harus menyadari bahwa kosmos itu dinamis. Heraklitos menyimpulkan bahwa tidak ada suatupun yang benar-benar ada, semuanya menjadi. Ungkapannya yang terkenal dalam menggambarkan perubahan ini adalah panta rhei uden menei (semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal matap).
Berbeda dengan Heraklitos, Parmenides (515-440 SM) memandang bahwa alam semesta itu selalu dalam keadaan tetap, gerak dan perubahan tidak mungkin terjadi. Menurutnya, realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak dan tidak berubah. Parmenides menegaskan bahwa yang ada itu ada. Yang tidak ada memang tidak ada, tidak bisa dipikirkan dan menjadi obyek pembicaraan. Yang ada akan tetap ada dan tidak mungkin menjadi tidak ada. Demikian juga yang tidak ada tidak mungkin berubah menjadi ada. Oleh karenanya, yang ada itu ada dan itulah kebenaran.
Benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Dengan kata lain, ukuran kebenaran adalah akal manusia. Parmenides menentang pendapat Heriklitos yang menyatakan bahwa alam itu selalu bergerak. Menurutnya gerak alam yang terlihat itu semu, sebab sejatinya alam itu diam - tidak bergerak karena alam itu satu, yaitu ada dan yang ada itu satu. Akibat dari pandangan ini kemudian muncullah panteisme dalam memandang realitas.
Para filsuf alam ternyata tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaan yang terus berkembang, sehingga kajian tentang alam tidak lagi menjadi focus utama dan mulai bergeser pada penyelidikan tentang manusia. Era filsuf alam pun berakhir digantikan masa transisi yang ditandai dengan lahirnya kaum “Sofis”. Kaum Sofis ini memulai kajian tentang manusia dan menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Ini merupakan cikal bakal humanisme. Tokoh utamanya adalah Protagoras (481-411 SM) yang menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat subyektif dan relatif. Konsekuensinya, tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika pun tidak dianggap mempunyai kebenaran yang absolut.
Tokoh lain dari kaum sofis yang lebih ekstrim dibanding Protagoras adalah Gorgias (483-375). Menurutnya, realitas itu sebenarnya tidak ada. Pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. Bila sesuatu itu ada, ia tidak akan dapat diketahui. Ini dikarenakan penginderaan itu sumber ilusi yang tidak dapat dipercaya. Pun akal tidak mampu meyakinkan kita tentang alam semesta, karena akal kita telah diperdaya dilemma subyektifitas. Kalaupun relaitas itu dapat kita ketahui, ia tidak dapat diberitahukan kepada orang lain. Sikap skeptic Gorgias ini dianggap oleh sebagian filsuf sebagai pandangan nihilisme, bahwa kebenaran itu tidak ada.
Namun relativisme kaum sofis ini ditentang oleh Socrates dan pengikutnya, seperti Plato dan Aristoteles. Menurut para filsuf ini, ada kebenaran obyektif yang bergantung pada manusia. Socrates mencoba membuktikan adanya kebenaran obyektif itu dengan metode dialognya. Metode ini bersifat praktis dan dilakukan melalui percakapan-percakapan yang berperan penting dalam menggali kebenaran yang obyektif. Dari sinilah kebenaran universal dapat ditemukan. Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan tentang diri sendiri.
Plato (429-347 SM) yang merupakan murid Socrates mencoba memadukan antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia. Plato mengungkapkan bahwa esensi itu mempunyai realitas dan realitasnya ada dalam idea. Kebenaran umum itu ada dan tidak dibuat-buat, bahkan sudah ada di alam idea. Kebenaran umum ini merupakan rujukan bagi alam empiris. Plato berhasil mensintesakan antara pandangan Heraklitos dan Parmenides. Untuk mendamaikan kedua pandangan itu, Plato mengungkapkan bahwa pandangan Heraklitos benar, tetapi hanya berlaku bagi alam empiris saja, sedangkan pandangan Parmenides juga benar, namun hanya berlaku untuk idea-idea yang bersifat abadi dan idea inilah yang menjadi dasar bagi pengenalan yang sejati.
Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles (384-322). Murid Plato ini berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem: logika, matematika, fisika dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Logika Aristoteles ini disebut juga sebagai logika deduktif, yang mengukur valid tidaknya suatu pemikiran.
Aristoteleslah yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Teoritis mencakup logika, metafisika dan fisika, sedangkan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu di kemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena ia dianggap mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.
Filsafat Yunani boleh dikatakan berakhir setelah era Aristoteles. Namun demikian sifat rasional yang menjadi cirinya masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam abad pertengahan.

Sriyanta
NIM : 13709251034
Mahasiswa PPs UNY Pendidikan Matematika Kelas B


Sumber Tulisan :
Rekaman perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Bakhtiar, Amsal. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta : Rajawali Pers
Russel, Bertrand. 2005. Sejarah Filsafat Barat dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (terjemahan). Yogkarta : Pustaka Pelajar.

16 Oktober 2013

Mengejar Ikhtiar - Mendaraskan Syukur




Berusahalah sebaik-baiknya seolah-olah keberhasilan melulu tergantung kerja kerasmu.  Setelahnya serahkan semuanya kepada Tuhan dan biarkan Ia sendiri mengerjakan yang terbaik bagimu.



Acapkali dalam kehidupan, kita dihadapkan pada cobaan atau persoalan yang menuntut kita untuk menyikapinya dengan sebaik-baiknya. Kadang kala persoalan itu dapat kita selesaikan dengan baik, namun tak jarang persoalan itu menelikung dan membelenggu kita, membuat kita seolah tidak berdaya. Dalam situasi demikianlah terminologi pasrah sering muncul. Apakah itu sesungguhnya pasrah? Apakah pasrah berarti menyerah, putus asa – berhenti berjuang? Bagaimanakah bersikap pasrah yang sesungguhnya?
            Prof. Dr. Marsigit, M.A mengajak kita memahami pasrah dari dimensi spiritual, yakni dengan mengatur keseimbangan antara pasrah dan ikhtiar. Pasrah dalam kaca mata fatalisme adalah pasrah dalam arti patah semangat – putus asa. Tentu bukan pasrah yang demikian yang kita maksudkan. Pasrah yang demikian tidak menyiratkan adanya harapan. Padahal mestinya dalam sikap kepasrahan kita masih menaruh harapan akan kehidupan yang lebih baik. Pasrah yang menyiratkan harapan di dalamnya hanya mungkin jika ada ikhtiar, yaitu usaha semaksimal mungkin dan setelah berbagai upaya itu dilakukan baru berpasrah – berserah diri pada penyelenggaraan Yang Ilahi.
Berikhtiar semaksimal mungkin tapi dalam keadaan pasrah, demikian diungkapkan Prof Dr. Marsigit M.A. Hal ini menyiratkan bahwa pasrah itu tidak pasif tapi pasrah itu aktif. Pasrah itu bukan tidak berusaha. Pasrah yang sesungguhnya adalah berikhtiar dengan segenap jiwa raga. Perubahan ke arah yang lebih baik, demi kehidupan yang lebih baik, tak akan pernah terjadi tanpa ikhtiar. Ikhtiar selalu berkait dengan hal yang belum terjadi dan agar hal yang akan terjadi baik adanya maka kita bisa mengusahakannya dengan berikhtiar semaksimal mungkin. Dalam konteks ini, maka takdir dipahami hanya sebagai sesuatu yang sudah terjadi dan dalam hal ini tentu saja takdir tidak bisa diubah. Sebab siapakah yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi? Oleh karena itu kehidupan kita sesungguhnya tidak ditentukan oleh takdir, tapi ditentukan oleh seberapa besar ikhtiar yang sudah kita lakukan untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Pun ada dimensi spiritual dalam sikap pasrah. Tidak melulu mengandalkan kekuatan diri sendiri, namun juga melibatkan campur tangan Tuhan. Pasrah pada dasarnya juga penyerahan diri total pada penyelenggaraan Ilahi. “Bukan kehendakku, tapi kehendakMulah yang terjadi.” Bahwa benar kita berusaha semaksimal mungkin seolah-olah keberhasilan hanya melulu ditentukan oleh kerja keras kita sendiri. Tapi setelah itu, kita menyerahkan dan membiarkan Tuhan sendiri yang berkarya dan menyempurnakan seturut kehendakNya. Inilah sikap pasrah yang sesungguhnya.
            Sikap pasrah yang demikian juga mencerminkan pengakuan bahwa kita sebagai manusia tidaklah sempurna. Kita membutuhkan uluran tangan dan belas kasih Tuhan dalam kehidupan kita. Menurut Prof. Dr. Marsigit, M.A. Pasrah adalah jika setiap saat dikarenakan ketidaksempurnaan manusia itulah sehingga  kita bisa menyadari siapa diri manusia itu. Dari sini tampak bahwa dalam pasrah ada ruang kesadaran diri yang dibangun oleh manusia, mengakui dibalik berbagai kemampuan dan kelebihan, manusia juga memiliki kekurangan dan keterbatasan-keterbatasan.
            Dan sesungguhnya kehidupan mempunyai arti justru karena manusia memiliki banyak keterbatasan. Justru karena manusia tidak sempurna itulah yang membuat kehidupan semakin bermakna. Bayangkan jika manusia itu sempurna. Ketika manusia sempurna maka ia akan mengetahui tentang semua hal. Jika demikian maka bukankah tidak ada lagi ilmu pengetahuan? Jika manusia sempurna, maka aku bisa menjadi Anda dan Anda bisa menjadi saya. Demikianlah jika manusia sempurna tidak akan ada kehidupan di dunia ini. Ketidaksempurnaan manusia itulah yang membuat kehidupan menjadi berarti. Oleh karenanya, kita perlu bersyukur atas ketidaksempurnaan kita.
            Rasa syukur adalah bentuk rasa terima kasih kepada penyelenggara kehidupan. Dan hanya orang-orang yang berhati ikhlaslah yang sesungguhnya mampu bersyukur. Ikhlas adalah kerelaan hati kita terhadap apapun hasil yang nanti Tuhan berikan kepada kita, berdasarkan usaha-usaha yang telah kita lakukan. Termasuk di dalamnya, ikhlas apabila apa yang kita inginkan tidak tercapai seperti yang kita harapkan. Dalam situasi inipun kita mesti bersyukur, sembari tetap memiliki pengharapan bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih indah untuk diri kita. Oleh karenanya, setiap saat kita perlu bersyukur.
            Keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita sebagai manusia membuat kita melakukan banyak sekali kesalahan dan menyebabkan kita jatuh dalam kubangan dosa. Oleh karenanya, kita perlu memohon ampun atas keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita. Acapkali kita mengabaikan hal-hal yang kita anggap tidak cukup penting bagi kita dan melulu berfokus pada sesuatu yang kita anggap penting saja. Kita tidak mampu melihat semua hal secara utuh. Kerapkali kita melakukan reduksi-reduksi - memilih dan mengeliminasi – sehingga seringkali kita berlaku tidak adil baik kepada diri sendiri, orang lain dan juga benda-benda dan makluk-makluk lain. Oleh karena itu, sudah semestinyalah kita setiap saat meminta maaf dan mohon pengampunan atas kesalahan, kekhilafan dan dosa-dosa kita.
            Kiranya sikap pasrah – berserah diri, rasa syukur, ikhlas dan kesediaan diri untuk mohon ampun akan menjadikan kita semakin manusiawi. Menjadikan kehidupan kita semakin bermakna bagi diri kita dan sesame. Dan yang pasti kita akan bisa menjalani hidup ini dengan bahagia. Sebab adakah orang yang lebih bahagia lebih dari orang-orang yang mampu pasrah, iklas, bersyukur dan mohon ampun?@


Sriyanta, H.J.
Mahasiswa PPs UNY
Pendidikan Matematika kelas B
NIM 13709251034